Alkisah di Sudut Madinah...
Di sebuah sudut pasar Madinah Al-Munawarah, hidup seorang pengemis Yahudi buta yang menghabiskan hari-harinya dengan penuh kebencian. Setiap kali ada langkah kaki mendekat, lisannya tak henti menyemburkan racun: "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad! Dia itu orang gila, pembohong, dan tukang sihir. Jika kalian mendekat, kalian akan terpengaruh olehnya!"
Ia tidak tahu, bahwa sosok yang ia maki setiap saat itulah yang setiap pagi datang membawakannya makanan. Tanpa sepatah kata pun, Muhammad SAW duduk di sampingnya, menghaluskan makanan dengan tangannya sendiri, lalu menyuapkannya ke mulut si pengemis dengan penuh kelembutan.
Rasulullah melakukan itu setiap hari, dalam diam, hingga maut menjemput Beliau.
Sunnah yang Tersisa
Setelah Rasulullah wafat, kesunyian menyelimuti pagi si pengemis. Tidak ada lagi tangan lembut yang menyuapinya. Hingga suatu hari, Abu Bakar r.a. berkunjung ke rumah putrinya, Aisyah r.ha.
"Anakku, adakah sunnah kekasihku (Rasulullah) yang belum aku kerjakan?" tanya Abu Bakar dengan kerinduan yang mendalam.
Aisyah r.ha menjawab, "Wahai ayahanda, engkau adalah ahli sunnah. Hampir tidak ada satu pun sunnah yang belum ayahanda lakukan, kecuali satu saja."
"Apakah itu?"
"Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar untuk membawakan makanan dan menyuapi seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana," jawab Aisyah.
Puncak Kesadaran: Air Mata di Ujung Pasar
Keesokan harinya, Abu Bakar r.a. pergi ke pasar membawa makanan. Ia mencoba meneruskan tradisi kekasihnya. Namun, saat suapan pertama mendarat di mulut si pengemis, sebuah teriakan memecah suasana.
"Siapakah kamu?" tanya si pengemis buta dengan nada marah.
Abu Bakar menjawab pelan, "Aku adalah orang yang biasa datang padamu."
"Bukan! Engkau bukan dia!" tukas si pengemis. "Orang yang biasa mendatangiku tak pernah membuatku sulit mengunyah. Ia selalu menghaluskan makanan itu dengan tangannya, melembutkannya dengan penuh kasih sebelum menyuapkannya ke mulutku. Engkau bukan dia!"
Pertahanan Abu Bakar r.a. runtuh. Air matanya mengalir deras. Dengan suara bergetar, ia berkata, "Benar, aku bukan dia. Aku adalah salah satu sahabatnya. Orang mulia yang biasa menyuapimu itu telah tiada. Beliau adalah Muhammad, Rasulullah SAW."
Seketika, pasar Madinah seolah membeku. Si pengemis buta itu tertegun, lalu tangisnya pecah. "Benarkah? Selama ini aku menghinanya, memfitnahnya, dan ia tidak pernah membalasku sedikit pun? Ia justru datang setiap pagi membawakanku cinta dalam bentuk makanan? Begitu mulianya ia..."
Di hadapan Abu Bakar r.a., di tengah kegelapan matanya, pengemis Yahudi itu akhirnya menemukan cahaya. Ia bersyahadat, memeluk keyakinan dari sosok yang selama ini ia benci.
Refleksi Akhlak: Di Atas Segala Perbedaan
Subhanallah. Inilah potret Akhlak Al-Karimah yang sesungguhnya. Sebuah cermin bening yang seharusnya kita gunakan untuk berkaca setiap hari. Sayyidah Aisyah r.ha pernah berkata bahwa "Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an itu sendiri." Beliau adalah Al-Qur'an yang berjalan, yang hadir di tengah manusia bukan untuk menghakimi, tapi untuk menyembuhkan.
Keluhuran akhlak inilah yang menjadi kunci keberhasilan Rasulullah membangun sebuah bangsa dari kenistaan menuju kemuliaan. Beliau pernah bersabda:
"Tidak ada sesuatu yang lebih berat timbangannya kelak di akhirat daripada akhlak yang mulia."
Dalam kehidupan kita hari ini—terutama di tengah hiruk-pikuk perbedaan pendapat dan kepentingan—mengedepankan akhlak adalah sebuah keharusan. Kita perlu mendahulukan adab di atas perbedaan, dan kasih sayang di atas ego pribadi.
Semoga kita semua senantiasa mendapatkan pancaran cahaya dari akhlak mulia Muhammad SAW, dan mampu mengaplikasikannya dalam setiap langkah kecil kita, baik di lintasan lari, di dalam rumah, maupun di ruang digital ini.

Social Media