BLANTERORIONv101

Mendapatkan Uang Dengan Alasan Bisa Bersedekah

12 March 2017


Kapasitas dan Jatah: Menata Ulang Niat di Balik Ambisi

Sering kali, saya terjebak dalam pemikiran bahwa untuk menjadi bermanfaat melalui sedekah dan jariyah, saya harus memiliki "banyak" terlebih dahulu. Ambisi besar ini secara tidak sadar membuat saya enggan menyentuh peluang yang terlihat kecil. Ada ego yang berbisik bahwa penghasilan rendah adalah bentuk merendahkan martabat, sehingga "uang kecil" ditolak, namun "uang besar" pun tak kunjung mendekat.

Dalam benak, saya selalu membayangkan angka yang melimpah—banyak, banyak, dan lebih banyak lagi. Namun, saya lupa akan satu hukum alam yang absolut: Gajah dan Kelinci sama-sama memakan rumput, tapi dalam ukuran yang berbeda.

Jika jatah rumput Gajah dipaksakan masuk ke perut Kelinci, ia akan hancur. Begitulah sesungguhnya hakikat rezeki; setiap jiwa telah memiliki takarannya masing-masing yang presisi. Tidak perlu ditukar, tidak perlu dipaksakan. Tugas kita bukanlah menggelembungkan perut melebihi kapasitas, melainkan mensyukuri apa yang ada di piring kita hari ini dan mengelolanya dengan sebaik-baiknya kebermanfaatan.


Baca Juga : Sebenarnya, Orang Kecil Adalah Orang Besar

Bersamaan dengan ambisi (angah-angah) itu, nafsu bekerja sedemikian pintarnya. Ia menipu dengan membisikkan rayuan gombal, seolah-olah penolakan saya terhadap dunia yang "kecil" adalah bentuk hidup yang ideal dan agamis—bahkan seakan-akan saya telah mencapai derajat Zuhud.

Namun, saya diingatkan oleh sebuah kaidah mendalam dalam kitab Al Nashikhatul Kafiyah:

والزهدفي الزنياأصل كل الخير، وليس الزهدبتحريم
الحلال ولاياضاعةالمال، وإنماالزهدأن تكون بمافي يدالله أوثق منك بمافي يد ك

“Zuhud dalam dunia adalah sumber segala kebaikan. Zuhud bukanlah dengan mengharamkan perkara yang halal, bukan pula dengan menyia-nyiakan harta. Melainkan, zuhud adalah ketika engkau lebih percaya pada apa yang berada dalam kekuasaan Allah daripada apa yang ada dalam genggaman tanganmu sendiri.”

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa memantaskan diri untuk "menerima yang besar" dimulai dari ketulusan saat "mengelola yang kecil". Menolak rezeki yang nampak sedikit karena merasa memiliki martabat yang lebih tinggi hanyalah bentuk kesombongan yang terbungkus rapi. Sebab, jika kita tidak mampu amanah pada selembar rumput yang ada di tangan, bagaimana mungkin kita meminta padang rumput yang luas tanpa membuat hati kita sendiri hancur oleh beban amanahnya?

Mari kita berhenti mendikte takdir dengan hitung-hitungan logika yang sempit. Tugas kita hanyalah bekerja dengan sebaik-baiknya ikhtiar, lalu meletakkan hasilnya di tangan Allah dengan keyakinan penuh bahwa setiap takaran adalah yang terbaik untuk kapasitas jiwa kita saat ini. Dengan begitu, kita tidak lagi diperbudak oleh angka, melainkan merdeka dalam syukur—sebuah kemuliaan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar tumpukan harta yang tak kunjung membawa ketenangan.
Fatih
Halo, saya Fatih. Selamat datang di jurnal digital saya. Di sini saya menuliskan berbagai catatan dan pemikiran sederhana. Semoga ada hal bermanfaat yang bisa kamu temukan.

Comments