Salah satu kelemahan manusia modern yang paling mengkhawatirkan adalah kecenderungan untuk terlalu gampang percaya atau terlalu cepat menolak. Kita tengah memasuki era "Generasi Ompong"—sebuah kondisi psikologis di mana seseorang kehilangan kemampuan atau kemauan untuk "mengunyah" informasi, wacana, hingga nilai-nilai kehidupan.
Sama halnya dengan orang yang tidak memiliki gigi, mereka hanya bisa menerima makanan yang lunak dan cair. Begitu pula dengan mentalitas saat ini; kita hanya ingin menyerap informasi yang ringan, menyenangkan, dan tidak menuntut kerja otak. Padahal, sebagaimana makanan yang harus dikunyah puluhan kali agar usus tetap sehat, sebuah ilmu atau wacana seharusnya diolah berkali-kali dalam pikiran agar jiwa tidak keracunan oleh kedangkalan.
Krisis Kedalaman di Tengah Arus Instan
Ketidakmampuan untuk mengunyah ini melahirkan budaya instan yang akut. Kita menginginkan segala sesuatu tanpa proses: sukses tanpa kerja keras, kebenaran tanpa pencarian, bahkan surga tanpa pengabdian. Kita lebih suka memandang permukaan daripada menyelami kedalaman. Akibatnya, kita sering terjebak pada simbol dan gaya, bukan pada substansi.
Dalam psikologi "ompong" ini, insting kritis kita tumpul. Kita tidak lagi mampu membedakan antara:
Kalimat tulus dengan sindiran (ironi).
Kebenaran dengan tipu daya yang dibungkus kesantunan (istidraj).
Ilmu yang dalam dengan sekadar retorika yang dangkal.
Industri yang Memanjakan Kepuasan Sekilas
Dunia di sekitar kita pun mulai menyesuaikan diri dengan "pasar ompong" ini. Media dan hiburan dirancang untuk memuaskan mata dalam hitungan detik. Jika sebuah tayangan menuntut penonton untuk sedikit saja berpikir atau merenung, mereka akan segera berpindah arah. Mutu kebudayaan dan pendidikan manusia pun seringkali dikorbankan demi mengejar sesuatu yang "langsung laku" dan "mudah ditelan".
Tragisnya, ketika kita berhenti mengunyah, kita kehilangan kemampuan untuk mengenali hakikat seseorang. Di mata generasi yang malas mendalami, seorang maling pun bisa dianggap sebagai orang suci asalkan ia pandai menirukan gaya bicara seorang tokoh agama. Inilah bahayanya menjadi bagian dari generasi yang hanya ingin kenyang secara instan, tanpa peduli apakah yang mereka telan adalah nutrisi bagi jiwa atau justru racun bagi peradaban.

Social Media