BLANTERORIONv101

Sunnah yang Terselubung: Antara Jubah dan Kejujuran Jiwa

3 February 2017

Kemasan vs Isi 

Kita sering melihat orang-orang berlomba mengenakan pakaian terbaik—yang mahal, yang bermerek, yang serba "wah". Namun, Simbah Yai memilih jalan berbeda. Beliau berpakaian layaknya orang biasa. Tak ada bedanya dengan penjual bakso, buruh pabrik, atau sales kaos kaki di pinggir jalan Nganjuk.

"Kalau saya datang dengan jubah dan sorban, itu tidak salah," kata Simbah Yai suatu ketika. "Cuma saya takut semua orang akan menyimpulkan bahwa saya lebih pandai dari yang lain. Lebih parah lagi, jika mereka menyimpulkan saya lebih alim. Jika itu tidak benar, bukankah itu namanya 'penipuan'?"

Mengurangi Potensi Penipuan Diri 

Bagi Simbah Yai, berpakaian biasa adalah cara untuk menjaga jarak dari penyakit hati. "Kalaupun memang benar (alim), apakah akhlak itu untuk dipamerkan melalui pakaian? Tidak boleh, kan? Maka semampu saya, saya berpakaian seperti ini untuk mengurangi potensi 'penipuan' saya kepada kalian."

Beliau menekankan satu hal yang sangat penting: Obyektivitas. Beliau tidak ingin didewakan atau dianggap setara dengan Rasulullah atau para Habib hanya karena kostum. "Saya adalah saya karena Allah menjadikan saya sebagai saya. Maka, obyektif saja sama saya," lanjutnya.

Baca Juga : Kisah Nabi Muhammad Dengan Pengemis Buta

Pakaian Rasulullah: Sebuah Realitas Sejarah 

Simbah Yai tidak menyalahkan mereka yang berjubah. Beliau justru salut pada mereka yang meniru persis penampilan fisik Rasulullah sebagai bentuk cinta. Namun, beliau mengingatkan sebuah fakta sejarah yang sering terlupakan: Baju Rasulullah tidak sekinclong yang dipakai kebanyakan orang sekarang.

Pakaian Rasulullah hanya ada tiga jenis: yang sedang dipakai, yang ada di lemari, dan yang sedang dicuci. Dan perlu diingat, model pakaian seperti itu adalah pakaian umum masyarakat Arab kala itu. Mulai dari Rasulullah hingga Abu Jahal, model pakaiannya serupa.

Inti Sunnah: Akhlak, Bukan Kostum 

Maka, sunnah Rasulullah yang paling mendasar sebenarnya adalah Akhlaknya, bukan sekadar kostumnya. Di mata Tuhan, orang yang paling dicintai justru mereka yang mampu "Rumongso" (merasa buruk/dzolim), bukan mereka yang "Rumongso Biso" (merasa paling bisa/baik).

Lihatlah para Nabi. Tak ada dari mereka yang mengaku sholeh. Mereka justru berseru: "Inni Kuntu Minadzolimin"—Aku termasuk orang yang dzolim.

Keikhlasan seseorang justru diragukan saat ia mulai menyebut dirinya baik. Jika hari ini kita bertemu orang yang mengaku paling benar atau paling alim... saran saya sederhana: langsung pulang saja. Ndang baliyo, Sri!


Karya : Choirudin Achmad
Disunting Oleh : Fatih
Fatih
Halo, saya Fatih. Selamat datang di jurnal digital saya. Di sini saya menuliskan berbagai catatan dan pemikiran sederhana. Semoga ada hal bermanfaat yang bisa kamu temukan.

Comments